Minggu, 07 Agustus 2016

Masih Selemah Dulu

|


Karena selama 21 tahun hidup aku belum pernah pacaran *ehm.. Yasudahlah ya terima aja nasib*, hubungan paling dekat selain keluarga dan saudara adalah…

Sahabat..

Ya, tapi malam ini aku akan bercerita sekilas tentang bagaimana aku memandang hubungan pertemananku selama ini..

Sahabat… Aku kayaknya sih udah pernah bahas di postingan d blogku sebelumnya, jadi aku gak akan bahas lagi.

Yang pasti bagiku mereka berada ditingkat yang tak tergantikan, seleksi alam, dan ada alasan kenapa aku membiarkan mereka mengenalku. Jadi sekarang aku bahas tentang hal lainnya aja ya…

Teman.


Boro-boro sahabat, aku begitu mengenal diriku untuk tahu bahwa temanpun mungkin aku cukup pemilih. Meskipun secara sadar aku tidak ingin memilih teman karena terkesan sombong, tapi yang ada dalam diriku itulah yang melakukan seleksi, yang bergerak, dan memutuskan. Apakah disekitar orang tertentu aku bisa bicara dengan mudah, apakah aku bisa tersenyum dan tertawa dengan tulus, atau apakah aku bisa bercanda, bicara, dan bertingkah tanpa rasa malu. Karena bagiku, teman adalah orang yang bisa membuatku nyaman di sekitar mereka.

Dan sebatas itu.

Lagi-lagi mungkin secara tidak sadar diriku membatasi seorang teman untuk kuanggap lebih dari teman, sebagai seorang sahabat. Karena sudah beberapa kali, dan masih terjadi sampai saat ini, disaat aku sudah memutuskan ataupun berfikir bahwa orang ini mungkin adalah sahabatku, semuanya berakhir menjadi kekecewaan ketika aku kembali kecewa, merasa tersisihkan, tidak diperhatikan, merasa sendirian.

Aku tidak suka merasa seperti itu. Ketika aku tidak harus dekat dengan seseorang, aku tidak akan merasa sedih dan sakit ketika mereka mengecewakanku. Pikiran bahwa aku ditinggal di belakang dan tersisihkan tidak akan membuatku sedih, karena bagiku mereka tidak memiliki kekuatan tersebut. Tetapi jika aku sudah menganggapnya penting, maka inilah yang terjadi ketika aku merasa diabaikan, perasaannya akan menyerang dengan kekuatan yang lebih besar.

Sehingga selama ini, aku berusaha sebisa mungkin untuk bergerak sendiri, berusaha mandiri meskipun sulit, tidak bergantung pada orang lain walaupun mustahil.

Yup, aku tetap bergantung pada orang lain, yang itu menjadi alasan kenapa sering kali aku kesal pada diriku sendiri karena terlalu lemah. Karena masih berharap seseorang bisa berada disisiku dan berjalan bersisihan. Dan inilah yang terjadi padaku, merasa hal yang sama dan terulang terus menerus. Menyesal sendirian, kesal sendirian, tapi akan kembali ke lingkaran yang sama.

Bodoh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

just give me your best comment :)