Aku baru sadar kalau aku seharusnya melanjutkan untuk postinganku yang Back to PPAK hahaha... yang postingannya sendiri aku sudah tulis beberapa semester yang lalu.
Waduh, PPAK ya... Itu udah 4 tahun yang lalu dan aku bener-bener agak gimana gitu kalau inget dulu di tahun 2013, pada saat PPAK itu rasanya 4 tahun kemudian tahun 2017 itu jauh banget. Rasanya menyiksa banget harus menghadapi tiga hari berturut-turut ospek dan capeknya minta ampun. Bahkan mendengar bahwa harus membuat pameran perdana membuat tugas-tugas di awal masih mahasiswa baru aku pikir saat itu mungkin gak ya aku bertahan hingga 4 tahun kemudian?
Huff.. dan sekarang untuk melanjutkan postinganku yang dulu, aku akan mencoba menuliskan hal-hal di masa PPAK itu yang masih aku ingat. Karena aku masih ingat, tentu saja itu berarti kenangan itu menurutku adalah sesuatu yang sangat historis.
Cerita ini sudah kuulang-ulang ceritakan ke orang lain, tapi ini akan kutuliskan versi tulisannya.
Aku lupa di hari keberapa. Pokoknya aku inget, di kelompokku ada 10 orang, dengan 2 cewek. Cewek itu akan kusebutkan saja si Tri. Nah jadi Alhamdulillahnya, Tri bener bener membantu untuk kelompok kami mengorganisir kebutuhan untuk ospek, kebutuhan kelompok. Secara kalau aku sendiri aku bakalan kelabakan kayak ikan tenggelem.
So, sehari setelah pertemuan pertama aku dan kelompokku ini, hari setelahnya aku hubungin semuanya untuk kumpul. Untuk membahas perlengkapan kelompok. Dan hari ketika kami ketemu, kami diberikan sendal swallow satu orang satu nggak tau siapa yang ngasih pokoknya itu iuran.
So, sehari setelah pertemuan pertama aku dan kelompokku ini, hari setelahnya aku hubungin semuanya untuk kumpul. Untuk membahas perlengkapan kelompok. Dan hari ketika kami ketemu, kami diberikan sendal swallow satu orang satu nggak tau siapa yang ngasih pokoknya itu iuran.
Hari setelahnya (?) ketika kami dihadapkan pada deadline nggak manusiawi untuk mengumpulkan semua perlengkapan, aku dan Tri yang jalan. Aku untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Klithikan, berbekal info dari temenku bernama Rizka.
Aku minta dikasih tau jalan, aku sms dia, trus kami janjian di masjid DPRD. Kuinfokan hal tersebut kepada Tri yang masih awam di Jogja.
Aku: Tri, kita cari yg barang jaman dulu di Klithikan aja.
Tri: dimana itu?
Aku: Ada. Yuk! Udah di list-kan apa aja?
Tri: Udah. Kamu tau tempatnya?
Aku: Iya tau tau. Yuk ah (orang asli jogja banyak gaya)
Di jalan baru kuinfokan padanya kalau kita nggak langsung ke lokasi.
Aku: kita ke mesjid DPRD dulu ya?
Tri: ngapain?
Aku: sholat. Skalian ketemu temen aku.
Tri: ketemu temen kamu buat apa?
Aku: nunjukin jalan.
Tri: kemana?
Aku: Klithikan.
Saat itu, dia mengingat hal tersebut hingga saat ini, dan aku jadi ikutan keingetan sekarang karena dia sering bahas.
Tak lama, tibalah kami ke masjid DPRD dan ketemu temen aku. Rizka dan Tri berkenalan. Kemudian obrol punya obrol akhirnya mereka bercakap-cakap.
Tri: ooh jadi kamu disuruh Lina buat nunjukin jalan?
Rizka: iya, makannya ketemuan disini.
Tri: tapi Lina tadi bilangnya dia udah tau Klithikan jadi aku kira langsung kesana.
Rizka: hahahaha
Aku: iya aku tau kok Klithikan, cuma nggak tau pas nya. Daripada nyasar kan, mending dianterin.
Tri: jadi sebenernya kamu tu nggak tau Klithikan dimana?
Aku: aku tauuu. Ntar habis dianterin ini aku pasti tau tempatnya.
Tri: yaampun, padahal kamu orang Jogja, tapi nggak hafal. Gitu soksokan tau.
Aku: hehehehehe
Rizka: emang gitu dia, sok sokan tau jalan.
Setelah aku dikatakatain karena akhirnya ketahuan nggak tau jalan ke Klithikan, kami pun ke Klithikan dan Rizka pulang setelah meninggalkan kami.
Hari itu, kami juga sibuk mencari baju marimar yang bajunya itu ditolak di hari berikutnya,.padahal menurutku mahal. Huh. Mana beli di pinggiran beringharjo pula. Ada juga bolak balik progo sampe progonya ternyata tutup dan dengan sedih kami kembali dengan tangan kosong.
Dan kesibukan yang gila itu terus berlanjut hingga malam menjelang. Mengingat rumahku yang saat itu jaraknya masih memakan waktu 45 menit minimal, maka kuputuskan untuk nginep di rumah Cica. Udah janjian sih, tapi aku semakin nggak yakin si Cica masih bangun soalnya aku ngerjain udah sampai jam 10. Dan cica ini, penganut tidur jam 8.
Aku kepikiran untuk tidur di kos Tri, tapi aku nggak langsung ngomong. Yah, ntar aja kali kalau udah kelar.
( Aku masih inget banget sudut pandangku akan tempat tersebut, daerah ISI selama aku ospek. Duh,, beda banget sama kalo aku lihat sekarang. Padahal tempatnya sama, tapi caraku melihat tempat tempat disana saat itu di malam hari bener-bener nggak familiar dan bikin ngerasa lagi di dimensi lain aja. Bahkan kalau kalo aku sekarang coba inget-inget, tempat itu kayaknya beda sama tempat yang sering kukunjungi sekarang: lorisi-nya beda, hyperlinknya beda, jalan belakang isinya beda. )
Hingga akhirnya waktu terus berjalan, dan aku sedikitpun nggak sadar kalau entah kapan Tri sudah nggak ada d basecamp temanku tersebut. Aku mulai deg degan karena awalnya dia harapanku satu satunya. Aku coba hubungi, WA, telp dan nggak ada yang ngangkat. Nekat langsung ke kosnya dan aku dihadapkan dengan kamar kosnya yang sepi hening dan gelap.
Apa udah tidur ya dia?
Dengan pemikiran itu, ditambah pesanku nggak dibales bales, akhirnya aku pasrah saja. Kembali ke basecamp dengan kepala tertunduk dan pundak melorot. Sudah jam 2. Di dalam, d rumah itu semua cowok. Kuambil tempat di kursi teras. Aku ngantuk banget, jadi kusampirkan jaket di atas wajahku dan aku sedikit terlelap. Hingga seseorang mengagetkanku.
Ap: Lin, kenapa?
Aku langsung bangun.
Aku: eh
Ap: kamu nggak tidur? (Padahl td aku merem)
Aku: tidur. Ini mau balik.
Ap: balik ke rumah? Jam segini?
Aku: enggak ke tempat temen (sambil muter otak: temen yang mana??)
Tapi karena nggak enak, disitu cowok semua aku mulai beres beres
Ap: nggak takut?
Aku: nggak kok. Gampanglah..
Finally, yang muncul di otakku adalah...
Lin lin liiin, ke kantor ayahmu ajaa. Kan ada mesjid, numpang tidur kamunya, besok numpang mandiii.. kan mesjid cocok untuk gelandangan kayak kamu!!!
Berbekal semangat itu, aku mengendarai motor dari Sewon hingga Malioboro. Saat itu jam setengah 3 pagi. Sampai disana, aku disapa oleh keadaan Jalan Malioboro yang sepi tanpa orang. Hanya ada satu orang bapak-bapak sedang menyapu. Tapi selain itu, keadaan sepi sekali, tidak pula ada kendaraan lain berlalu lalang, kecuali motorku yang baru berhenti di depan gerbang kantor DPRD DIY.
Yang dikunci...
Hal yang tidak aku sangka adalah jalan menuju masjid DPRD ditutup semua, dikunci gembok. Padahal kupikir masjid ini buka 24 jam, tapi ternyata tidak demikian.
Aku yang mengantuk, lelah, dan bingung, dan bumpet nggak bisa mikir, memutuskan untuk memejamkan mata sejenak di atas motor depan kantor DPRD bersama suasana sepi pagi itu.
Jam 3 pagi. Aku akhirnya memutuskan untuk menelepon Cica. Karena kupikir, mungkin jam 3 itu dia sudah bangun, atau minimal jiwanya sudah perlahan kembali.
Syukurlah, tak lama berselang, Cica langsung angkat telpon dariku,
Aku: Ca, udah bangun?
Cica: Iya lin..
Aku: Aku kesana ya? Nunut tidur..
Cica: Iya lin..
dan aku langsung saja tancap ga ke tempat dia dan sampai jam setengah 4.
Aku: Ca, udah bangun?
Cica: Iya lin..
Aku: Aku kesana ya? Nunut tidur..
Cica: Iya lin..
dan aku langsung saja tancap ga ke tempat dia dan sampai jam setengah 4.
Pagi-pagi jam setengah 4 pagi, aku di sambut Cica dan Mamanya di depan rumahnya, dan aku langsung ketiduran saat berhadapan dengan kasur. Tentu saja hanya sekitar 1 jam-an lebih, sebelum akhirnya aku harus bangun dan bergegas siap-siap kembali ke kampus (berbekal instruksi kecil dari Cica yang untung nggak nyasar. Waktu ke basecamp, ternyata sudah sepi, sudah pada berangkat. Padahal aku belum beli makanan sama minum yang saat itu harus dibawa. Yaudah pasrah aja deh.
Hari kedua PPAK, pagi itu aku disuruh jalan berjongkok dari gerbang hingga ke rombongan kelompokku, karena aku terlambat..
Salam, Adlina .H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
just give me your best comment :)