Kamis, 10 Agustus 2017

Aku dan Sad Ending

|


"Iiiih Linaa... kok udah tau sih?"

"Lina mah gitu. Suka spoiler."

"Ya kalo dia nggak mau pasti yang sad ending."

"Iya kok malah baca dari belakang sih?"




--------------------------------------------


Well...
Welcome!

Huaaa... akhirnya aku nulis blog lagi.
Kali ini mau ngobrolin tentang cerita-cerita sad ending..


Enggak, enggak, ini bukan informasi penting sih. Malah nggak penting sama sekali.
Cuma pingin nulis aja...
Emm... karena biasanya aku omongin secara langsung ke orang,
kali ini aku pingin tulis deh.

Buat kenang-kenangan doang...

Jadiiii...
iya, jadi ini tentang aku yang kalo disodorin cerita-cerita sad ending (biasanya novel atau drama serial) pasti nolak.


Alasannya!

"Hidupku aja udah cukup sedih, buat apa cari hiburan kalo sedih juga."

Itu sih..

Hmm... eh tapi emang iya kok, buat aku pribadi. Udah ada momen-momen terendah dalam hidupku, yang saat itu aku harus diem-diem nangis, benci sama keadaan, pingin kabur, pingin nggak di rumah, nggak tau mau cerita kemana, nangis tapi nggak pingin ada yang tau, nangis di bawah hujan, nangis sambil meluk bantal, nangis di balik pintu yang tertutup, dan lain-lain...

Maksudku, selama ini aku cari hiburan semata-mata karena aku mencari pelarian. Keluar dari dunia nyata, dan lari ke dunia imajinasi. Nggak papa dunia imajinasi orang, selama itu bisa bikin aku bernafas sejenak dan menghilang dari kepenatan dunia nyata..

Sekarang ada dunia maya sih, emang... tapi dunia maya sekarang yang orang sebut 'internet' nggak cukup buat aku. Nggak banyak mengekspresikan emosi. Nggak cukup aja. Jadi itu cuma tempat yang aku kunjungi ketika gabut,nganggur,lagi ada waktu. Sedangkan drama, dan novel, adalah tempat dimana aku berfokus pada satu hal, nggak diganggu dunia luar, dan aku merasakan berbagai emosi. Sungguh berbagai emosi.

Hidup ini penuh dinamika. Lebih sering dikecewakan daripada sesuai ekspektasi, lebih sering dijatuhkan daripada dibuat melambung tinggi. Oh, lebih sering lagi dibuat melambung tinggi tapi dijatuhkan dengan sadis. Lebih banyak bersenang-senang dahulu bersedih-sedih kemudian daripada kebalikannya. Yah, pokoknya secara singkat (itu udah panjang meeen), emosi yang menyiratkan perjuangan, bersedih-sedih dahulu bersenang-senang kemudian, happily ever after setelah melalui kejadian yang menyedihkan I prefer that than something opposite.

"Yah, nggak kuat mental kamu liinn..."

Eeeeh, aku bukannya nggak pernah baca atau nonton cerita cerita sad ending ya. But i prefer to prevent that. Aku nggak suka dibuat kepikiran tentang nasib orang (dan itu nasib tokoh yang fiksi) dan tidak bahagia. Cukup maklum karena aku INFP, too much to feel, jadi apa-apa itu cepet banget dipikirin dan gampang banget kepikiran, dan gampang banget kena demam kepikiran. Karena aku terlalu merasakan apa yang aku baca atau nonton, rasanya sampe nggak tau ini perasaan ini mau diapain, sedangkan perasaan yang aku rasain itu nggak bisa didiemin. Kadang, udah nangis juga nggak cukup, kalau tragis akhirnya, ditulis juga nggak cukup. Beneran bingung mau diapain, kecuali cuma bisa dirasakan doang. Kombinasi kepikiran banget dan dirasain banget, ugh. bener-bener nggak suka kalau itu sedih. 

Waktu aku baca novelnya Summer Breeze, I gave that novel 5 stars, perfect score! I love it so much, and that novel became my favorite then. Yupz, aku nggak benci sama novel itu lho, nggak kemudian aku teriak-teriak kesel, dan aku emang kepikiran banget sama novel itu setelah baca. 

Kepikiran, kenapa sih orang tuanya kayak gitu? Kenapa sih nggak ada yang ngerti? Kenapa sih nggak ada yang peduliin selama ini? Kenapa sih harus ketika semuanya udah terlambat? Oh, kenapa kenapa kenapa... nggak tau sampe kapan mikir kayak gitu sampe rasanya semua orang aku pingin suruh baca biar nangis guling-guling kayak aku. Biar kepikiran. Biar ada bahan diskusi.

Aku bilang suka sama novel ini, setelah aku baca novelnya, berhari-hari setelahnya.
Aku nggak nyangka aja, ternyata endingnya kayak gitu. Aku awalnya positif thinking ceritanya bakal happily ever after , kayak novel orizuka lainnya. Eh ternyata enggak.

Yah, itu pertama kalinya aku baca novel sad ending. And enough there. Aku pikir cukup itu aja..

Bukan karena bukunya menurutku jelek. Enggak. Justru bukunya jadi bagus banget karena sad ending. Twistnya ada disitu juga kan.

Oh, bukan karena itu. Tapi, karena efeknya terhadapku selama dan setelahnya.

Uhhh... nggak suka. Aku nggak suka dibikin nangis dan nggak dibikin seneng. Nggak suka banget. Nggak suka dibikin pingin nangis lagi karena keingetan. Nggak suka keingetan karena kepikiran dan nggak bisa berbuat apa-apa buat ubah akhir ceritanya. 

Karena udah terlanjur baca, udah terlanjur kelar, ya mau nggak mau aku harus bilang nih novel bagus banget. Opini pribadi juga. Ya karena udah terlanjur baca!

Makannya setelah itu aku setiap mau baca novel, kudu banget harus tau endingnya. Karena kebanyakan orang nggak mau ngasih tahu kalau endingnya sedih, ya mau nggak mau aku harus cari tau sendiri. Taunya gimana?

Ya buka aja halaman terakhir. Kalo masih tokoh utama di awal dan menyiratkan kebahagiaan, berarti happy ending. Selain itu? No, no, no.

Iya. Jadi sebenernya spoiler, aku butuh spoiler cuma buat tau itu aja. 

Yaa, bukan berarti setelah aku baca Summer Breeze nggak pernah baca sad ending juga sih. Ada. Beberapa. Kepaksa. Karena penulis favorit (jadi wajib gituu). Karena kejebak juga (kampret).

Setelah baca ya mau ngak mau aku kasih bintang 5. Emang bagus! Tapi kan kesel. Iya, aku keseeel. 

Mungkin nih ya, kalo aku udah sangat bahagia sampai lupa rasanya sedih, mungkin suatu hari nanti bakal ngumpulin novel-novel yang sedih. Kalau sementara sih, hidupku masih stabil, nggak bahagia banget, nggak sedih banget juga. Tapi karena udah tau rasanya sediiiih banget, jadinya yang dikejar adalah hal-hal yang bisa bikin bahagia. Aku lho. Kalau kamu nggak setuju, ya nggak apa juga sih. ha ha ha.

Nah, ternyata itu berlaku juga untuk tontonan drama serial.  Nggak bisa aku kalau sad ending. Apalagi serial kan panjang banget. Jadi rasanya nggak worth gitu. Aku lho, udah nonton berjam-jam, akhirnya tragis, yang satu meninggal, yang satu depresi sedih pacarnya meninggal.

Kasusnya sama sih kayak pas baca novel. Toh, waktu aku baca 1 Little of Tears aku suka banget, favorit banget sampe rasanya semua orang harus nonton (yang sayangnya nggak ada yang nyangkut). Mungkin juga, karena masa SMP adalah masa terberat di kehidupanku sehingga aku butuh sesuatu yang bisa ngeluarin semua air mataku yang lebih sering tertahan. Jadi emang drama itu berarti banget buat aku. Lebih sukanya karena drama itu ngajarin perjuangan banget sih. Jadi walaupun aku tau ceritanya bakal kayak apa, tapi moral value nya tenang perjuangan itu kali ya yang berhasil bikin aku nangis-nangis, lebih karena tersentuh dan kagum. Mungkin yang kayak gitu aku masih sanggup nonton sih. Banyak pembelajarannya.

Yah, jadi kalau sad ending emang pemilih banget. Emang...

Nah kalau film beda lagi!

Aku sanggup nonton film yang sedih nih, yang sad ending juga aku sanggup!!

Asalkan bagus banget. Nggak bakal waste time.  Dan bukan cerita ceinta! Dan... kebanyakan yang berhasil bikin aku tepuk tangan adalah film Korea. Banyak pesannya coy.

Pernah sih nyoba nyang cerita sad ending, trus itu cerita dari amerika. Kalo gak salah yang 500 days apaa gitu ya (tapi itu dari amerika bukan sih). Emm... nggak. Nggak suka.. yah.. nggak suka aja.. Waktu nonton The Fault of Our Star, itu juga aku nggak suka... suka sih, dikit aja, karena karakternya keren banget. Mungkin karena itu termasuk wajib tonton jadi aku tonton.

Oh! Mungkin karena cerita cinta juga kali ya. Nggak terlalu dapet sih emang kalo film-film barat. Nggak tau deh. Namanya juga selera. Terima aja. Maksudku, terima aja seleraku..

Ehh tapi aku suka film Amore. Tapi bukan film amerika sih itu. Samaaaa... kalau untuk referensi tontonan ya karena wajib ditonton sebagai 'referensi' bukan hiburan, aku sanggup.


Anyway, ini aku ngetik udah sampe laptop nggak jalan. Jadi aku udahin aja.

Selanjutnya mungkin tentang Aku dan Open Ending. Hahahaha

Nggak penting juga sih..

Tapi gak apalah..
Toh ini blog ku. emang buat cuap-cuap yang serba nggak penting..

Okedeh kalau gitu.

Selamat malam..



Salam, Adlina .H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

just give me your best comment :)